Prosa : Slice of Key
Ya, aku yang akan memulainya sendiri.
Sejak awal dan sejak dulu, aku memang tak dapat menyangkal bahwa aku terlalu membesarkan diriku sendiri hingga aku tak sadar bahwa orang-orang telah lama menjauhiku.
Walau kutahu itu perlahan.
Tapi, aku memang menyimpan ego ku di tempat yang tinggi. Hingga aku tak dapat menjangkaunya sendiri hanya 'sekadar' untuk membuangnya.
Tetapi, ketika hatiku mulai melapang. Hati kecilku menyeru kecil,
"Salahkah aku bila begini?"
Setahuku, itulah aku. Kupikir itu yang membentuk karakterku. Karakter yang melekat erat.
---
Ranting-ranting itu melayang ringan ketika aku mengerling ke arahnya. Diikuti dedaunan kering yang jatuh tepat di sela-sela flat shoes ku. Aku selalu menyukai saat-saat ini. Nampak seperti gejala awal musim gugur. Haha, aku bukannya mengada-ada. Tapi, aku memang selalu memimpikan itu. Kelak, aku akan pergi ke negara-negara dengan empat musim. Bukan untuk menikmati butiran salju yang tak kudapatkan disini, tetapi aku punya mimpi yang kutanam.
"Apa dunia lebih suka dengan kerumitan? Apa setiap kerumitan membawa serta suatu karisma? Sesuatu yang luar biasa. Apakah kesederhanaan bukannya jalan pintas yang lebih menyenangkan untuk dilewati? Kepolosan yang membuat kita tak tahu menahu tentang hal yang tak seharusnya dipikirkan. Kerumitan yang membuat kita bingung akan bagaimana jati diri kita? Bukankah spontanitas yang sederhana itu tidak selalu menunjukkan bahwa dengan itu kita berkedudukan dan berpengetahuan lebih dangkal? Kurasa, tidak selalu begitu. Justru, terkadang sesuatu yang luar biasa datang dari hal yang sederhana dan berasal dari diri kita sendiri," aku selalu mencerna sendiri tiap kata yang kutulis di notebook ku. Kuharap, jika ada yang membaca, aku akan mendapatkan komentar-komentar yang tak biasa walaupun aku tak yakin bahwa aku dapat menanggapinya dengan benar. Aku selalu diam-diam menyembunyikan rasa tidak percaya diriku, terlebih jika itu hal yang tak biasa. Memikirkan hal semacam itu memang membuatku gerah, tapi aku menyukainya. Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri.
---
Jujur, walaupun aku orang yang egois, aku lebih suka berterus terang dan bukannya mempersulit kondisi. Aku bukan tipe yang angkuh, yang mengatakan sejumlah dialog yang terkadang oleh orang awam sulit untuk dipahami. Aku lebih suka kata-kata sederhana keluar dari mulutku. Dan jangan ragukan selera humorku.
---
Menjelang senja, Key duduk bersandar pada sebatang pohon. Pohon apel dengan buah-buah yang sudah ranum. Walaupun begitu, hatinya tidak tergerak untuk memetiknya satu buah saja karena ia memang tidak terlalu suka. Ia lebih memilih untuk bersantai. Di tengah keheningan, tiba-tiba gerimis turun membangunkan lamunannya. Sejenak ia menahan napas dan menghembuskannya pelan,
"Aku lebih suka saat-saat gerimis seperti ini. Setidaknya bisa menemaniku. Lagipula, mereka datang membawa banyak teman..." gumam Key setengah meringis memikirkan gumamannya sendiri yang rancu. Tak berselang lama, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Ia kalang kabut dan segera beralih mengeluarkan payung berwarna tosca. Tak mungkin ia berteduh di bawah pohon itu, ia takut tersambar petir. Ia segera pergi meninggalkan halaman sekolah itu dan berjalan pulang. Ia memutuskan untuk pulang karena ayahnya tak kunjung menjemput. Dalam kegelisahannya, tiba-tiba mobil hitam lewat di depannya. Ia mendeteksi plat nomornya. Ahh, itu mobilnya Rayhan. Ia memandangi mobil itu dengan sinis, sesinis penumpang yang ada di dalamnya.
Ketika sudah sampai rumah, Key tak langsung membasuh kaki atau mencuci muka (dalam artian sesungguhnya). Tubuhnya sudah seperti habis mandi karena diguyur hujan. Hari ini, rumah kosong. Mungkin, ibu sedang mengantar barang atau mengambil pesanan barang di toko. Ia telah lama memakluminya. Ibunya tak mungkin memaksakan berlama-lama disana. Tak lebih dari satu jam mungkin urusannya sudah selesai.
Ia beranjak ke ruang tengah. Di genggamannya sudah terdapat buku-buku yang tidak terlalu tebal dan sebuah pena. Key memang lumayan jenuh untuk mengerjakan soal-soal itu. Tapi, ia sadar bahwa ia sudah kelas tiga. Setahun lebih cepat dari teman sepantarannya. Ya, ia mengambil kelas akselerasi SMP. Ia tak mau membuang waktu.
---
Hari ini ada jam ke nol, Key harus buru-buru mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Ia harus sudah sampai sekolah pukul setengah enam. Biasanya, tidak sepagi itu.
Key gelagapan masuk ke kelas. Ia takut terlambat, karena ia melewatkan 5 menit pelajarannya. Ternyata, baru ada satu orang yang mendiami kelasnya. Ah iya, Key tersentak karena baru tersadar ini hari Senin. Tidak ada jam ke nol. Bodohnya aku, pikirnya. Ia sempat tertegun melihat seseorang, maksudnya, temannya yang berada disana. "Si Jutek Tinggi" itu. Itu julukan yang Key berikan kepada Rayhan. Sosok teman yang tubuhnya tinggi bak pencakar langit, untuk ukuran seusianya tingginya tak wajar. Kelewat tinggi.
Rayhan menatap Key sejenak. Tatapannya tajam dan membuat Key terpaksa berpura-pura membuang muka saat melintas di depannya.
"Nggak biasanya kamu berangkat pagi. Lupa kalau hari ini nggak ada jam ke nol?" ujarnya tiba-tiba.
"Ehh iya.. aku lupa," jawab Key singkat dan terbata-bata.
"Oh, baguslah kalau seandainya kamu berangkat seperti ini terus," tutup Rayhan dengan suara yang tak simpatik sedikitpun.
Dasar, pikir Key. Suasana canggung segera menyeruak begitu percakapan tak berarti itu selesai. Key tak tahu harus berbuat apa sekarang, sepagi ini. Mengajak ngobrol Rayhan, rasanya tidak mungkin dan tak perlu. Jawaban dari Rayhan seakan-akan malah membuat hatinya tersayat. Rayhan sedari tadi yang sibuk dengan gadgetnya, tak menggubris sedikitpun gerak-gerik Key.
Untunglah saat itu, teman-teman yang lain mulai berdatangan.
---
Lagi-lagi ayah Key tak menjemput lagi. Beliau ada urusan yang sangat penting dan tidak mungkin untuk ditinggalkannya, bahkan hanya sekadar untuk menjemput putri semata wayangnya. Key memang dapat berjalan kaki dan tidak perlu naik bus untuk pulang karena jarak rumah ke sekolahnya tak begitu jauh. Tetapi, Key benar-benar merasakan perbedaan antara dijemput dengan berjalan kaki. Bukannya, tak ingin capek. Ayahnya selalu menyelipkan kalimat-kalimat mutiara dan motivasi ketika menjemputnya. Momen seperti itulah yang sangat ia rindukan. Baginya, ucapan yang terlontar dari mulut ayahnya itu dapat meringankan rasa lelahnya akan sekolah, kesepian, dan sebagainya. Ibunya walaupun juga sebijak ayahnya, kini tak sempat lagi mengucapkan kalimat-kalimat yang tiap saat dinantikan Key. Ibunya harus kembali ke rutinitasnya saat ini. Usai pulang, biasanya ibunya malah mengomelinya karena Key tak lekas makan siang.
Langit mulai kemerahan dengan semburat warna oranye yang nampak kontras. Matahari mulai turun, hendak menyambut kedatangan rembulan. Hari ini Key ada rapat anggota OSIS sehingga mewajibkannya untuk pulang menjelang petang. Gerimis mulai turun. Celakanya, ia tak membawa payung ataupun jas hujan. Pasti tertinggal di rumah. pikirnya. Ia segera berlari menuju pos satpam sekolah untuk meminjam payung. Ternyata, payung-payung sudah dipinjam semua.
"Guru-guru dan tukang kantin pun sudah pada pulang, Key.." ujar salah satu satpam. Ia mengenal Key karena Key cukup terkenal di sekolah itu.
"Ya sudah, Pak. Nggak papa. Nati biar saya naik bus saja," walapun Key tahu, sepetang ini mana ada bus lewat lagi. Ia duduk di dalam sekolah, menunggu siapa saja. Barangkali, ayahnya mau menjemputnya. Kali ini, Key harus menerima kenyataan bahwa ibunya memang tidak bisa menjemput karena masih ada urusan sampai malam. Uh, tidak biasanya ibu selama itu.
Tiba-tiba di samping Key, duduk seorang.. seorang yang sangat ia kenali.
-To be continued...















