Kamis, 27 November 2014

Cerpen Persahabatan yang Mengharukan

 Kali ini saya akan menyajikan sebuah cerpen yang bertema persahabatan. Mohon dimaklumi apabila ada kesalahan, baik dalam kaidah bahasa atau lain-lain. Semoga dapat bermanfaat bagi semuanya. 

Sebotol Pasir Dalam Genggaman Bulan




        “ Kau berjanji?”  tanya Bintang sambil menghitung kerang di pinggir pantai.
     “ Eeem, tentu saja!”  jawaban Bulan membuat Bintang ragu. Bulan menatap Bintang penuh arti. Sesekali Bintang mengingat kawannya itu baru pindahan dari Bogor. Bintang tak ingin ditinggalkan temannya untuk kedua kalinya. Ia mengingat-ingat Klara, dulu Klara meninggalkannya ke luar kota. Bintang merasa kalau Bulan bisa saja pindah ke Bogor lagi. Ke Bogor kan, lebih enak daripada tinggal di tepi pantai.
“ Ya, sudah. Ini!” Bintang memberikan sebuah botol bening berisi pasir. Pasir itu sangat indah. Ada bintang laut kecil di dalamnya.
“ Benarkah?” Bulan langsung meraih botol itu, ia peluk botol itu sehingga pasir itu bergerak-gerak indah. Bintang tersenyun manis. Dalam hatinya, apakah Bulan benar-benar akan selalu menemaninya? Atau, hanya ingin mendapatkan botol itu? Entahlah, yang penting ia ikhlas memberikannya. Mereka berdua pulang diselimuti sinar senja hari.
“ Mau kubuatkan kalung?” suara Bulan memecahkan lamunan Bintang.
“ Oh, ya.” jawab Bintang asal-asalan. Dalam benaknya, ia masih memikirkan janji Bulan.
“ Hei! Lihat itu! Ada kapal merapat ke sini!” seru Bulan girang.
Kapal itu ramai sekali. Semua penduduk mengerumuninya. Tiba-tiba dari dalam kapal ada dua orang berusaha menghampiri Bintang.
“ Bintang, Bintang! Ini Nenek, nak!” seorang parubaya mendekati Bintang. Di sampingnya ada seorang laki-laki yang belum terlalu tua. Dilihatnya dua orang itu, Bintang dengan cepat dapat mengenali keduanya.
“ Nenek! Paman! Ada perlu apa Nenek dan Paman ke sini?”
“ Kami ingin menjemputmu ke Jakarta bersama Ayah, Ibu, dan Adikmu, Bin!” Ketiganya saling bercakap-cakap dan beranjak pulang. Dari kejauhan, nampak Bulan dengan sedih memeluk botolnya. Ia mendengarkan percakapan mereka. Hatinya sakit. Ia hanya bisa diam seribu bahasa. Sebutir air menetes dari matanya hingga menjadi sebuah tangisan. Ia pun berlari pulang.
Esoknya, Bulan hanya bisa terdiam di rumah sederhananya. Hingga tiba saat Bintang dan keluarganya mau pindah ke Jakarta. Bintang tahu, pasti Bulan sangat sedih. Ia pun mengunjungi rumah Bulan untuk berpamitan.
“ Bulan, Bulan, Bulan!” berkali-kali Bintang memanggil nama sahabat karibnya sambil mengetuk pintu rumah Bulan. Bulan keluar menghampirinya.
“ Aku tahu kamu ingin pergi. Sebenarnya, aku hanya menginginkan botolmu. Aku berbohong padamu! Aku tidak ingin berteman denganmu!” ujar Bulan dengan nada tinggi tapi sedikit terisak. Ia segera menutup pintu kemudian menangis dalam tidurnya.
Bintang pun ke Jakarta. Ia tahu bahwa sebenarnya Bulan tidak seperti itu. Bulan berkata begitu agar Bintang rela meninggalkannya.
“ Botol Pasir, jaga Bulan, ya. Agar Bulan selalu mengingat kenangan kita selalu.” Bintang berbisik pada dirinya sendiri.
Bulan menggenggam sebotol pasir itu. Di situ terisi tangisan dalam hatinya dan persahabatannya. Bintang tersenyum manis dan tidak akan melupakan sahabatnya serta kampungnya yang menawan.


Baca selengkapnya

Selasa, 25 November 2014