Cerpen Persahabatan yang Mengharukan
Kali ini saya akan menyajikan sebuah cerpen yang bertema persahabatan. Mohon dimaklumi apabila ada kesalahan, baik dalam kaidah bahasa atau lain-lain. Semoga dapat bermanfaat bagi semuanya.
Sebotol
Pasir Dalam Genggaman Bulan
“ Kau berjanji?” tanya
Bintang sambil menghitung kerang di pinggir pantai.
“ Eeem, tentu saja!” jawaban Bulan membuat Bintang ragu. Bulan
menatap Bintang penuh arti. Sesekali Bintang mengingat kawannya itu baru
pindahan dari Bogor. Bintang tak ingin ditinggalkan temannya untuk kedua
kalinya. Ia mengingat-ingat Klara, dulu Klara meninggalkannya ke luar kota.
Bintang merasa kalau Bulan bisa saja pindah ke Bogor lagi. Ke Bogor kan, lebih
enak daripada tinggal di tepi pantai.
“
Ya, sudah. Ini!” Bintang memberikan sebuah botol bening berisi pasir. Pasir itu
sangat indah. Ada bintang laut kecil di dalamnya.
“
Benarkah?” Bulan langsung meraih botol itu, ia peluk botol itu sehingga pasir itu
bergerak-gerak indah. Bintang tersenyun manis. Dalam hatinya, apakah Bulan
benar-benar akan selalu menemaninya? Atau, hanya ingin mendapatkan botol itu?
Entahlah, yang penting ia ikhlas memberikannya. Mereka berdua pulang diselimuti
sinar senja hari.
“
Mau kubuatkan kalung?” suara Bulan memecahkan lamunan Bintang.
“
Oh, ya.” jawab Bintang asal-asalan. Dalam benaknya, ia masih memikirkan janji
Bulan.
“
Hei! Lihat itu! Ada kapal merapat ke sini!” seru Bulan girang.
Kapal
itu ramai sekali. Semua penduduk mengerumuninya. Tiba-tiba dari dalam kapal ada
dua orang berusaha menghampiri Bintang.
“
Bintang, Bintang! Ini Nenek, nak!” seorang parubaya mendekati Bintang. Di sampingnya
ada seorang laki-laki yang belum terlalu tua. Dilihatnya dua orang itu, Bintang
dengan cepat dapat mengenali keduanya.
“
Nenek! Paman! Ada perlu apa Nenek dan Paman ke sini?”
“
Kami ingin menjemputmu ke Jakarta bersama Ayah, Ibu, dan Adikmu, Bin!”
Ketiganya saling bercakap-cakap dan beranjak pulang. Dari kejauhan, nampak
Bulan dengan sedih memeluk botolnya. Ia mendengarkan percakapan mereka. Hatinya
sakit. Ia hanya bisa diam seribu bahasa. Sebutir air menetes dari matanya
hingga menjadi sebuah tangisan. Ia pun berlari pulang.
Esoknya,
Bulan hanya bisa terdiam di rumah sederhananya. Hingga tiba saat Bintang dan
keluarganya mau pindah ke Jakarta. Bintang tahu, pasti Bulan sangat sedih. Ia
pun mengunjungi rumah Bulan untuk berpamitan.
“
Bulan, Bulan, Bulan!” berkali-kali Bintang memanggil nama sahabat karibnya
sambil mengetuk pintu rumah Bulan. Bulan keluar menghampirinya.
“
Aku tahu kamu ingin pergi. Sebenarnya, aku hanya menginginkan botolmu. Aku
berbohong padamu! Aku tidak ingin berteman denganmu!” ujar Bulan dengan nada
tinggi tapi sedikit terisak. Ia segera menutup pintu kemudian menangis dalam
tidurnya.
Bintang
pun ke Jakarta. Ia tahu bahwa sebenarnya Bulan tidak seperti itu. Bulan berkata
begitu agar Bintang rela meninggalkannya.
“
Botol Pasir, jaga Bulan, ya. Agar Bulan selalu mengingat kenangan kita selalu.”
Bintang berbisik pada dirinya sendiri.
Bulan
menggenggam sebotol pasir itu. Di situ terisi tangisan dalam hatinya dan
persahabatannya. Bintang tersenyum manis dan tidak akan melupakan sahabatnya
serta kampungnya yang menawan.

