Rabu, 19 Oktober 2016

Cerpen : Gelap yang Lenyap

Gelap yang Lenyap


Presented by : Tsania Maharani


                Pagi itu atmosfernya berubah. Aku muak. Aku sama sekali tidak suka dengan tingkahnya yang terkesan delusional itu. Dia selalu saja datang dengan membawa ketidakpuasan. Aku senyap. Mulutku bungkam dan juga hatiku tak mungkin bisa dipaksa kan? Jadi, mungkin akan lebih baik jika aku bertahan dalam kondisi.
                Senja menjelang petang itu, dia datang ke rumahku. Seakan-akan membawa secercah harapan yang menerobos kebahagiaanku. Tapi, tetap saja aku tidak boleh gegabah sama sekali untuk kelewatan senang. Aku mengerling tajam ke arahnya, seiring dengan hembusan angin sore. Raut mukanya seindah warna kontras senja yang beralih ke petang. Begitu memilukan, tetapi sekaligus bercampur indah. Kuayunkan tanganku tanpa ragu, kemudian kuraih tangannya yang terasa hangat. Aku tidak tahu kenapa aku selalu cepat pulih dari kesalahan yang ia buat. Sekali lagi, dia menaklukan hatiku. Aku kalah telak, dia begitu sempurna di mataku.
                “Sudah tidak marah lagi, kan? Bagaimana kalau kita mampir ke cafe seberang jalan sana? Kamu boleh ambil roti lapis keju dan meneguk latte sepuasmu,” ajaknya sembari memberikan senyuman kecil di wajahnya.
                “Oh, tentu aku sudah lebih baik. Kamu kira aku ini si pemurung yang menyebalkan, begitu? Tentu aku tidak boleh melewatkan tawaran itu. Ayo segera ke sana sebelum malam membuat café nya makin ramai!” jawabku tanpa keraguan sedikitpun. Dia selalu bisa membawaku ke ruang yang nyaman. Dulu dia tidak sehangat itu. Dulu sekali, ia sedingin es. Hatinya agak sedikit tinggi dan terkadang masih suka jual mahal. Namun, sekarang ia jauh lebih baik. Walaupun aku tahu bahwa acap kali ia membuatku sakit hati. Aku selalu bisa sembuh sendiri tiap melihat raut wajahnya. Memang terdengar berlebihan, tetapi kuakui tidak ada seorangpun yang rela menemaniku selain dia. Dia sosok setia yang selalu mau mendengar semua keluhanku yang bagi sebagian orang dianggap tidak penting. Aku pernah dengar bahwa menyimpan masalah hidupmu sendiri tidaklah baik bagi keadaan jiwamu. Jadi, kulimpahkan saja semua keluh kesahku kepada dia. Walaupun aku tahu dan sadar sekali bahwa aku seharusnya bersandar pada Tuhan.
                Mataku menyapu jalanan di area café. Segera kumasuki café yang tidak terlalu luas itu bersama dengannya. Kami memilih duduk di ujung, dekat dengan jendela besar itu. Dari jendela itu, nampak pemandangan kota menjelang malam hari. Jalan-jalan yang tidak terlalu ramai berhiaskan lentera-lentera tua. Tepatnya bukan lentera sih, tapi lampu kota. Kami memesan kue lapis keju dan satu cangkir latte panas untukku serta secangkir teh raspberry untuknya.
Begitu pesanan kami datang, entah kenapa aku melihat binar-binar di wajahnya yang belum pernah aku lihat. Dia nampak sangat bahagia.. Kemudian, aku menyantap pelan makananku sambil memikirkan agenda apa yang akan aku lakukan besok bersamanya. Puluhan ide memenuhi kepalaku. Baru saja hendak membuka mulut, tiba-tiba ia berlagak aneh. Wajahnya berubah menyeramkan dan ia menyeringai. Kemudian, ia berusaha menarikku dengan sangat kencang. Namun, aku menghempaskan tanganku. Sepertinya ia hendak pergi ke suatu tempat. Ia tidak memaksaku lagi, kemudian tiba-tiba saja raganya menembus jendela café dan raib begitu saja. Ya Tuhan, dia hilang entah kemana. Aku menangis, tetapi kemudian ada perasaan lega di hatiku. Entahlah, ini aneh dan aku tak mengerti. Aku mulai menerka perasaan lega ini darimana. Mungkin, besok pagi aku akan dapat jawaban pastinya. Aku begitu menyukainya, aku tidak ingin kehilangan dia.
***
Pagi itu aku terbangun. Mimpi tadi malam masih membayang di benakku. Hal wajib yang pertama aku lakukan tentunya memeriksa HP. Tapi anehnya, aku merasa berat hati untuk melakukannya. Sontak aku merasa terkejut saat melihat kedua orang tuaku ada di depan pintu kamarku. Mereka menyambutku hangat, mereka baru pulang setelah sekian lama bertugas. Suasana haru menyelimutiku. Aku peluk erat mereka. Tiada kebahagiaan lain yang kutunggu selain mereka. Satu hal yang harus kuingat, aku tidak boleh terlalu bergantung pada “dia”. Walaupun dia juga tidak datang saat tidak aku usik, tetapi pengaruhnya amat melekat bagiku. Sampai-sampai aku terjerat ke dalamnya. Siapa lagi “dia” kalau bukan “sang pengacau era kini”. Tapi itu memang salahku. Jika aku dekat, maka ia akan makin mendekat pula. Ya, “dia” hanyalah sekian imajinasi dan perasaan tertekan dariku. Akibat kesepianku, aku sibuk berkutat dengannya sampai muncul rasa ketidakpuasan dan depresi yang mendalam di hatiku. Kupikir, aku makin labil tanpa sadar. Namun, kali ini aku harus berubah. Aku tidak akan menyendiri lagi. Akan kubuktian pada dia bahwa aku tidak bergantung padanya. Aku sangat bersyukur karena besok tidak perlu terapi. Dia yang semu itu, bukanlah manusia. Dunia maya? Segelintir saja yang mengibaratkan sampai segila itu.

-TAMAT-






                




Baca selengkapnya

Selasa, 09 Agustus 2016

Intinya, gak bisa diintikan

Sudah Jadi Kenangan (?)

                Tak terlewat beberapa saat aku dihantui oleh masa lalu.
                Wait.  Masa lalu
                Masa lalu. Masa la(h)lu, bukan idgaf dude
                Terkadang emosi yang masih naik turun puncak dan lereng, terus mengejar, terlebih dalam kondisi yang lebih dominan me-time.
                Aku teringat saat kesan pertama, mungkin terasa bukan apa-apa bagi orang lain, tetapi buatku hal itu terus seolah enggan beranjak dari memori, dan kemudian menguasai isi hati yang menjadikan imajinasi seakan meninggi tak mau henti kesana kemari tanpa mitologi dan akhirnya kamu jadi hokage.-.
                Ayo, tak buat terlarut terhura nih
                Siapa lagi kalau bukan mereka/?
                Aku tahu mungkin kedengarannya agak berlebihan, tapi piye lagi, udah terlanjur akut nih rindunya. Ea
Iya, kalian semua mbak-mas yang ceplok ugi primitif
Walaupun jenuh kadang menghampiri, tapi kami selalu bisa temukan “ini lah kami”
Ayo jangan ke-sibuk’en sama sekolahnya :3
Kapan-kapan boleh lah kalau meet up secepatnya, y kaaan
Tapi kapan ya. Hm

Salam Hangat dan Damai Perind*,
Taylee Minerva

Ini Cuma curhatan gaje kok, buat hiburan semata yang semata itu maksudnya ya cuma untukku.
Mohon readers (hamdalah ada), berkenan membiarkan akhir-akhir ini blog memuat sesi yang kurang penting dan terkesan pribadi.

Terimakasih

Nyebelin yha. Ncen nyebai og.
Baca selengkapnya

Sabtu, 09 April 2016

Slowly Wind

Haloo, reader(s)??
kali ini jujur aja aku juga bingung mau nge-post apa, soalnya secara tiba-tiba aku kangen untuk share sesuatu di sini. //bohong, pdhl hbs galau gajelas*bhaq
Dan kali ini tujuanku bukan untuk berbagi pengetahuan, informasi unik, atau motivasi apalah, engga kok.
Aku cuma mau melepas tekanan batin aja.
So, kalau kalian merasa kalian ga cukup punya banyak waktu untuk buang-buang waktu, mending skip aja ya.
Hehe, J/K (diutamakan dibaca, tetapi boleh waqof)
Gak, gak, cukup bercanda nya. Langsung ke story aja ya..
 ---------------------------------------------------------
"Jika suka lebih baik dipendam atau diungkapkan?"
"Kamu kenapa tiba-tiba tanya begitu?"














.
.
.
.








Eh, eh, udah dulu deh. Tiba-tiba mood ku ilang.


*jadi, d teks ini kata kuncinya adalah "tiba-tiba"

Ok see ya.

Baca selengkapnya

Kamis, 24 Desember 2015

Prosa : Slice of Key












Ya, aku yang akan memulainya sendiri.
Sejak awal dan sejak dulu, aku memang tak dapat menyangkal bahwa aku terlalu membesarkan diriku sendiri hingga aku tak sadar bahwa orang-orang telah lama menjauhiku.
Walau kutahu itu perlahan.
Tapi, aku memang menyimpan ego ku di tempat yang tinggi. Hingga aku tak dapat menjangkaunya sendiri hanya 'sekadar' untuk membuangnya.
Tetapi, ketika hatiku mulai melapang. Hati kecilku menyeru kecil,
"Salahkah aku bila begini?"
Setahuku, itulah aku. Kupikir itu yang membentuk karakterku. Karakter yang melekat erat.

---

     Ranting-ranting itu melayang ringan ketika aku mengerling ke arahnya. Diikuti dedaunan kering yang jatuh tepat di sela-sela flat shoes ku. Aku selalu menyukai saat-saat ini. Nampak seperti gejala awal musim gugur. Haha, aku bukannya mengada-ada. Tapi, aku memang selalu memimpikan itu. Kelak, aku akan pergi ke negara-negara dengan empat musim. Bukan untuk menikmati butiran salju yang tak kudapatkan disini, tetapi aku punya mimpi yang kutanam. 
     "Apa dunia lebih suka dengan kerumitan? Apa setiap kerumitan membawa serta suatu karisma? Sesuatu yang luar biasa. Apakah kesederhanaan bukannya jalan pintas yang lebih menyenangkan untuk dilewati? Kepolosan yang membuat kita tak tahu menahu tentang hal yang tak seharusnya dipikirkan. Kerumitan yang membuat kita bingung akan bagaimana jati diri kita? Bukankah spontanitas yang sederhana itu tidak selalu menunjukkan bahwa dengan itu kita berkedudukan dan berpengetahuan lebih dangkal? Kurasa, tidak selalu begitu. Justru, terkadang sesuatu yang luar biasa datang dari hal yang sederhana dan berasal dari diri kita sendiri," aku selalu mencerna sendiri tiap kata yang kutulis di notebook ku. Kuharap, jika ada yang membaca, aku akan mendapatkan komentar-komentar yang tak biasa walaupun aku tak yakin bahwa aku dapat menanggapinya dengan benar. Aku selalu diam-diam menyembunyikan rasa tidak percaya diriku, terlebih jika itu hal yang tak biasa. Memikirkan hal semacam itu memang membuatku gerah, tapi aku menyukainya. Setiap orang punya caranya sendiri-sendiri.

---

       Jujur, walaupun aku orang yang egois, aku lebih suka berterus terang dan bukannya mempersulit kondisi. Aku bukan tipe yang angkuh, yang mengatakan sejumlah dialog yang terkadang oleh orang awam sulit untuk dipahami. Aku lebih suka kata-kata sederhana keluar dari mulutku. Dan jangan ragukan selera humorku. 

---

      Menjelang senja, Key duduk bersandar pada sebatang pohon. Pohon apel dengan buah-buah yang sudah ranum. Walaupun begitu, hatinya tidak tergerak untuk memetiknya satu buah saja karena ia memang tidak terlalu suka. Ia lebih memilih untuk bersantai. Di tengah keheningan, tiba-tiba gerimis turun membangunkan lamunannya. Sejenak ia menahan napas dan menghembuskannya pelan,
   "Aku lebih suka saat-saat gerimis seperti ini. Setidaknya bisa menemaniku. Lagipula, mereka datang membawa banyak teman..." gumam Key setengah meringis memikirkan gumamannya sendiri yang rancu. Tak berselang lama, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Ia kalang kabut dan segera beralih mengeluarkan payung berwarna tosca. Tak mungkin ia berteduh di bawah pohon itu, ia takut tersambar petir. Ia segera pergi meninggalkan halaman sekolah itu dan berjalan pulang. Ia memutuskan untuk pulang karena ayahnya tak kunjung menjemput. Dalam kegelisahannya, tiba-tiba mobil hitam lewat di depannya. Ia mendeteksi plat nomornya. Ahh, itu mobilnya Rayhan. Ia memandangi mobil itu dengan sinis, sesinis penumpang yang ada di dalamnya.
     Ketika sudah sampai rumah, Key tak langsung membasuh kaki atau mencuci muka (dalam artian sesungguhnya). Tubuhnya sudah seperti habis mandi karena diguyur hujan. Hari ini, rumah kosong. Mungkin, ibu sedang mengantar barang atau mengambil pesanan barang di toko. Ia telah lama memakluminya. Ibunya tak mungkin memaksakan berlama-lama disana. Tak lebih dari satu jam mungkin urusannya sudah selesai.
      Ia beranjak ke ruang tengah. Di genggamannya sudah terdapat buku-buku yang tidak terlalu tebal dan sebuah pena. Key memang lumayan jenuh untuk mengerjakan soal-soal itu. Tapi, ia sadar bahwa ia sudah kelas tiga. Setahun lebih cepat dari teman sepantarannya. Ya, ia mengambil kelas akselerasi SMP. Ia tak mau membuang waktu. 

---

     Hari ini ada jam ke nol, Key harus buru-buru mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Ia harus sudah sampai sekolah pukul setengah enam. Biasanya, tidak sepagi itu. 
     Key gelagapan masuk ke kelas. Ia takut terlambat, karena ia melewatkan 5 menit pelajarannya. Ternyata, baru ada satu orang yang mendiami kelasnya. Ah iya, Key tersentak karena baru tersadar ini hari Senin. Tidak ada jam ke nol. Bodohnya aku, pikirnya. Ia sempat tertegun melihat seseorang, maksudnya, temannya yang berada disana. "Si Jutek Tinggi" itu. Itu julukan yang Key berikan kepada Rayhan. Sosok teman yang tubuhnya tinggi bak pencakar langit, untuk ukuran seusianya tingginya tak wajar. Kelewat tinggi. 
   Rayhan menatap Key sejenak. Tatapannya tajam dan membuat Key terpaksa berpura-pura membuang muka saat melintas di depannya. 
       "Nggak biasanya kamu berangkat pagi. Lupa kalau hari ini nggak ada jam ke nol?" ujarnya tiba-tiba.
       "Ehh iya.. aku lupa," jawab Key singkat dan terbata-bata.
     "Oh, baguslah kalau seandainya kamu berangkat seperti ini terus," tutup Rayhan dengan suara yang tak simpatik sedikitpun.
      Dasar, pikir Key. Suasana canggung segera menyeruak begitu percakapan tak berarti itu selesai. Key tak tahu harus berbuat apa sekarang, sepagi ini. Mengajak ngobrol Rayhan, rasanya tidak mungkin dan tak perlu. Jawaban dari Rayhan seakan-akan malah membuat hatinya tersayat. Rayhan sedari tadi yang sibuk dengan gadgetnya, tak menggubris sedikitpun gerak-gerik Key. 
      Untunglah saat itu, teman-teman yang lain mulai berdatangan.

---

     Lagi-lagi ayah Key tak menjemput lagi. Beliau ada urusan yang sangat penting dan tidak mungkin untuk ditinggalkannya, bahkan hanya sekadar untuk menjemput putri semata wayangnya. Key memang dapat berjalan kaki dan tidak perlu naik bus untuk pulang karena jarak rumah ke sekolahnya tak begitu jauh. Tetapi, Key benar-benar merasakan perbedaan antara dijemput dengan berjalan kaki. Bukannya, tak ingin capek. Ayahnya selalu menyelipkan kalimat-kalimat mutiara dan motivasi ketika menjemputnya. Momen seperti itulah yang sangat ia rindukan. Baginya, ucapan yang terlontar dari mulut ayahnya itu dapat meringankan rasa lelahnya akan sekolah, kesepian, dan sebagainya. Ibunya walaupun juga sebijak ayahnya, kini tak sempat lagi mengucapkan kalimat-kalimat yang tiap saat dinantikan Key. Ibunya harus kembali ke rutinitasnya saat ini. Usai pulang, biasanya ibunya malah mengomelinya karena Key tak lekas makan siang. 
    Langit mulai kemerahan dengan semburat warna oranye yang nampak kontras. Matahari mulai turun, hendak menyambut kedatangan rembulan. Hari ini Key ada rapat anggota OSIS sehingga mewajibkannya untuk pulang menjelang petang. Gerimis mulai turun. Celakanya, ia tak membawa payung ataupun jas hujan. Pasti tertinggal di rumah. pikirnya. Ia segera berlari menuju pos satpam sekolah untuk meminjam payung. Ternyata, payung-payung sudah dipinjam semua. 
      "Guru-guru dan tukang kantin pun sudah pada pulang, Key.." ujar salah satu satpam. Ia mengenal Key karena Key cukup terkenal di sekolah itu. 
       "Ya sudah, Pak. Nggak papa. Nati biar saya naik bus saja," walapun Key tahu, sepetang ini mana ada bus lewat lagi. Ia duduk di dalam sekolah, menunggu siapa saja. Barangkali, ayahnya mau menjemputnya. Kali ini, Key harus menerima kenyataan bahwa ibunya memang tidak bisa menjemput karena masih ada urusan sampai malam. Uh, tidak biasanya ibu selama itu.
       Tiba-tiba di samping Key, duduk seorang.. seorang yang sangat ia kenali.

                -To be continued...





Baca selengkapnya

Selasa, 03 November 2015

The Beautiful Friendship

KITA CIEZTA 'O4 : Sepenggal cerita lampau kita
True friendship in 2yk. 



 Wushh..
Gak kerasa yha.. ternyata udah hampir 2 tahun lamanya kita menghabiskan waktu bersama.
Padahal kayaknya baru kemaren kita kenalan satu sama laen ehh udh mau lulus aja .-. /*gak-ekspresif-mbuhhlah.
Kawan-kawanku tercintah, semoga kita bisa menempuh ujian dengan lancar dan semoga kita mendapat nilai yg memuaskan. Nilai yang di Ridhoi oleh-Nya, yg terbaik utk kita bagaimanapun hasilnya. Amiin..But,.. yang terpenting bukan nilai kita tapi seberapa keras dan sesungguh apa usaha kita dalam meraihnya.
sok bijak :/
Gak bisa aku ceritain satu-satu kejadian apa aja yg telah kita lalui bersama. Perjalanan kita di CI itu penuh pasang surut, konflik, cobaan, dan apalah lainnya. Pokoknya, berkesan banget. Dan dari peristiwa-peristiwa itu kita jangan saling menjatuhkan dan menyalahkan, tapi kita harus saling menguatkan, sebagaimana ikrar kita saat kita memutuskan untuk masuk dan menjadi bagian dari kelas ini. Hidup gak semulus yang kita bayangkan. Gak semudah membalikkan telapak tangan.
Wajar kok kalau misalnya kita masih suka silang pendapat dalam ngambil keputusan. Tapi, jangan sampai menyulut kemarahan dan kebencian dari masing-masing kita. Kita kuat karena sama-sama. Jangan bela ego kalian. Singkirkan itu dan lakukan apa yang telah menjadi harapan kita selama ini.
Buat target-target hidup yang baru... AGAIN AGAIN AGAIN. always remember it.
Kegilaan, ambigu, pahpoh, dan setiap karakter  yg berbeda-beda dari kalian itu memberi warna baru dalam hidupku. Semua cerita gelap (wahha) dan yang maniss, semuanya gak cukup kalau hanya diceritakan dengan rangkaian kata-kata. Lewat berbagai pengalaman itulah, aku mendapat pelajaran berharga yang sebelumnya belum pernah ku dapatkan. Kita saling mengisi lembar demi lembar kisah kita. Dan kita yang membuatnya sendiri, bukan orang lain. Dan suatu saat, kita lah yang akan menuai hasilnya..:3
Suatu saat kita akan merasa sangat merindukan hal-hal sederhana itu.
Sesederhana kita dapat tertawa bersama.
Ingat temen-temen..
Kita sekolah di smp 2 yogya bukan untuk mencari popularitas. Kita berangkat pagi (amiin) setiap hari itu tujuan kita untuk ibadah. Ibadah kita yaitu mencari ilmu yang bermanfaat.
Dan.. bukan hanya akademis yang jadi satu-satunya tujuan kita. Tetapi, akhlak dan karakter lah yang paling utama.
Kalau posisi kita sedang diatas, kita jangan jumawa. Semakin tinggi jabatan yang kita dapat, itu artinya makin banyak dan berat tanggung jawab yang kita pikul. Kita harus saling membantu.
Fighting CIEZTA 'O4 !!
Yaahh walaupun aku tau bahwa blog ini minim banget readersnya. #doainbiarbanyak. Tapi, setidaknya aku sudah cukup senang bisa mencurahkan pikiran dan beban di benakku lewat tulisan ini. Biarlah aku saja yang rajin-rajin mbaca postingan ku sendiri.
Thank u.. Wassalam :)
save fotonya leh ughaa kok.
btw judulnya apa banget yaa

Baca selengkapnya

My quotes of today


Sometimes you choose to look happy because you do not want to explain why you are sad to them who even can not understand.

Originally painting by : Tsania Maharani

Baca selengkapnya

Senin, 05 Oktober 2015

Cerpen : Menjangkau Waktu

    Percayalah. Ini bukanlah waktu yang berbeda dari yang kerap terlintas. Hanya saja, kelihatannya aku lebih merasa aneh. Tidak fokus sama sekali. Rasanya ada yang mengalihkan perhatianku. Huh, siapa peduli! Aku hanyalah aku. Masih ada serangkaian materi yang belum aku baca.
    Bodoh... Tak biasanya aku sebegitu bodoh seperti ini. Mencari-cari namamu di internet. Kira-kira adakah hal tolol lagi yang akan kulakukan setelah ini? Kuharap tidak sama sekali. Besok itu UKK.
Sadar akan kewajibanmu. Ujian Nasional sudah diambang pintu.
   Belakangan ini, kupikir aku terlalu sering memikirkanmu. Orang yang tiba-tiba saja merampas kecintaanku pada pelajaran Fisika, atau Matematika, atau apalah. Aku mengorbankan waktuku tanpa alasan. Aku seperti terjerembab dan hiperbola total. Entahlah, kedengarannya tak cocok. Tanganku reflek menuliskan nama jelekmu.
   Dan satu lagi, mungkin aku paranoid. Kumohon, tatapanmu waktu itu hanyalah sekadar gurauan dan kebetulan kan? Tak berarti layaknya aku membalas senyummu setahun yang lalu disaat aku masih membencimu. Dulu, disaat aku benar-benar menganggapmu sebagai saingan berat kelas kakap.
  Wajah semu itu tak kunjung pudar. Aku belum tahu, atau sudah terlalu tahu alasannya.
  Saat itu bisa saja kita duel di kelas, namun kini aku tidak terlalu yakin jika saja itu aku lakukan sekarang. Pemahamanku tentang dirimu sudah berbeda dan semakin membaik.
  ..............
Baca selengkapnya