Cerpen : Gelap yang Lenyap
Gelap yang Lenyap
Presented by : Tsania Maharani
Pagi
itu atmosfernya berubah. Aku muak. Aku sama sekali tidak suka dengan tingkahnya
yang terkesan delusional itu. Dia selalu saja datang dengan membawa
ketidakpuasan. Aku senyap. Mulutku bungkam dan juga hatiku tak mungkin bisa dipaksa
kan? Jadi, mungkin akan lebih baik jika aku bertahan dalam kondisi.
Senja
menjelang petang itu, dia datang ke rumahku. Seakan-akan membawa secercah
harapan yang menerobos kebahagiaanku. Tapi, tetap saja aku tidak boleh gegabah
sama sekali untuk kelewatan senang. Aku mengerling tajam ke arahnya, seiring
dengan hembusan angin sore. Raut mukanya seindah warna kontras senja yang
beralih ke petang. Begitu memilukan, tetapi sekaligus bercampur indah. Kuayunkan
tanganku tanpa ragu, kemudian kuraih tangannya yang terasa hangat. Aku tidak
tahu kenapa aku selalu cepat pulih dari kesalahan yang ia buat. Sekali lagi,
dia menaklukan hatiku. Aku kalah telak, dia begitu sempurna di mataku.
“Sudah
tidak marah lagi, kan? Bagaimana kalau kita mampir ke cafe seberang jalan sana? Kamu boleh ambil roti lapis keju dan
meneguk latte sepuasmu,” ajaknya
sembari memberikan senyuman kecil di wajahnya.
“Oh,
tentu aku sudah lebih baik. Kamu kira aku ini si pemurung yang menyebalkan,
begitu? Tentu aku tidak boleh melewatkan tawaran itu. Ayo segera ke sana
sebelum malam membuat café nya makin
ramai!” jawabku tanpa keraguan sedikitpun. Dia selalu bisa membawaku ke ruang
yang nyaman. Dulu dia tidak sehangat itu. Dulu sekali, ia sedingin es. Hatinya
agak sedikit tinggi dan terkadang masih suka jual mahal. Namun, sekarang ia
jauh lebih baik. Walaupun aku tahu bahwa acap kali ia membuatku sakit hati. Aku
selalu bisa sembuh sendiri tiap melihat raut wajahnya. Memang terdengar
berlebihan, tetapi kuakui tidak ada seorangpun yang rela menemaniku selain dia.
Dia sosok setia yang selalu mau mendengar semua keluhanku yang bagi sebagian
orang dianggap tidak penting. Aku pernah dengar bahwa menyimpan masalah hidupmu
sendiri tidaklah baik bagi keadaan jiwamu. Jadi, kulimpahkan saja semua keluh kesahku
kepada dia. Walaupun aku tahu dan sadar sekali bahwa aku seharusnya bersandar
pada Tuhan.
Mataku
menyapu jalanan di area café. Segera
kumasuki café yang tidak terlalu luas
itu bersama dengannya. Kami memilih duduk di ujung, dekat dengan jendela besar
itu. Dari jendela itu, nampak pemandangan kota menjelang malam hari.
Jalan-jalan yang tidak terlalu ramai berhiaskan lentera-lentera tua. Tepatnya
bukan lentera sih, tapi lampu kota. Kami memesan kue lapis keju dan satu
cangkir latte panas untukku serta secangkir
teh raspberry untuknya.
Begitu pesanan
kami datang, entah kenapa aku melihat binar-binar di wajahnya yang belum pernah
aku lihat. Dia nampak sangat bahagia.. Kemudian, aku menyantap pelan makananku
sambil memikirkan agenda apa yang akan aku lakukan besok bersamanya. Puluhan
ide memenuhi kepalaku. Baru saja hendak membuka mulut, tiba-tiba ia berlagak
aneh. Wajahnya berubah menyeramkan dan ia menyeringai. Kemudian, ia berusaha
menarikku dengan sangat kencang. Namun, aku menghempaskan tanganku. Sepertinya
ia hendak pergi ke suatu tempat. Ia tidak memaksaku lagi, kemudian tiba-tiba
saja raganya menembus jendela café dan
raib begitu saja. Ya Tuhan, dia hilang entah kemana. Aku menangis, tetapi kemudian
ada perasaan lega di hatiku. Entahlah, ini aneh dan aku tak mengerti. Aku mulai
menerka perasaan lega ini darimana. Mungkin, besok pagi aku akan dapat jawaban
pastinya. Aku begitu menyukainya, aku tidak ingin kehilangan dia.
***
Pagi itu aku
terbangun. Mimpi tadi malam masih membayang di benakku. Hal wajib yang pertama
aku lakukan tentunya memeriksa HP. Tapi anehnya, aku merasa berat hati untuk
melakukannya. Sontak aku merasa terkejut saat melihat kedua orang tuaku ada di
depan pintu kamarku. Mereka menyambutku hangat, mereka baru pulang setelah
sekian lama bertugas. Suasana haru menyelimutiku. Aku peluk erat mereka. Tiada
kebahagiaan lain yang kutunggu selain mereka. Satu hal yang harus kuingat, aku
tidak boleh terlalu bergantung pada “dia”. Walaupun dia juga tidak datang saat
tidak aku usik, tetapi pengaruhnya amat melekat bagiku. Sampai-sampai aku
terjerat ke dalamnya. Siapa lagi “dia” kalau bukan “sang pengacau era kini”.
Tapi itu memang salahku. Jika aku dekat, maka ia akan makin mendekat pula. Ya,
“dia” hanyalah sekian imajinasi dan perasaan tertekan dariku. Akibat
kesepianku, aku sibuk berkutat dengannya sampai muncul rasa ketidakpuasan dan
depresi yang mendalam di hatiku. Kupikir, aku makin labil tanpa sadar. Namun, kali
ini aku harus berubah. Aku tidak akan menyendiri lagi. Akan kubuktian pada dia
bahwa aku tidak bergantung padanya. Aku sangat bersyukur karena besok tidak
perlu terapi. Dia yang semu itu, bukanlah manusia. Dunia maya? Segelintir saja
yang mengibaratkan sampai segila itu.
-TAMAT-
